Wellbeing | WELLBEING | 5 months ago
Kenapa Orang Mudah Emosi Saat Ditilang?
Aksi seorang pemuda di Tangerang yang mengamuk dan merusak motor yang dikendarainya saat ditilang hingga kini masih memenuhi seluruh media nasional dan menjadi berita viral paling hot. Bukan hanya dia saja yang mengamuk dan melawan petugas saat ditilang, ada juga beberapa video lainnya di tempat-tempat berbeda yang menyoroti perilaku serupa. Apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang ini? Mari kita belajar sedikit tentang psikologi dan kesehatan mental.
08 February 2019 16:36
Text by Astri Suciati


Aksi seorang pemuda di Tangerang yang mengamuk dan merusak motor yang dikendarainya saat ditilang hingga kini masih memenuhi seluruh media nasional dan menjadi berita viral paling hot. Sebenarnya bukan hanya dia saja yang mengamuk dan melawan petugas saat ditilang, ada juga beberapa video lainnya di tempat-tempat berbeda yang menyoroti warga – beberapa di antaranya wanita - yang tak bisa mengontrol amarah ketika harus berhadapan dengan polisi lalu lintas. Apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang ini? Mari kita belajar sedikit tentang psikologi dan kesehatan mental.

Diberhentikan oleh seorang polisi karena melakukan pelanggaran di jalan adalah pengalaman yang menegangkan, tidak peduli siapa Anda. Meminta maaf dan bersikap jujur mungkin merupakan respons yang tepat, tetapi harus dicatat bahwa saat menepi dapat membuat pengemudi menjadi rentan. Biasanya orang-orang merasa cemas, marah, atau benar-benar takut ketika dipinggirkan oleh seorang polisi. 

Idealnya, kita tidak perlu melihat emosi negatif dari pengemudi yang ditilang. Lagi pula, polisi ada di sini untuk melindungi warga negara, bukan untuk menakut-nakuti, memarahi, atau merepotkan kita. Tetapi semakin ditegakkannya batas-batas antara warga dan polisi, semakin banyak kecenderungan untuk merasa tidak nyaman.

Kita melihat pelanggaran setiap hari di jalanan: orang-orang yang ngebut, tidak memakai helm, melawan arus, memakai jalur kendaraan lain, melanggar rambu lalu lintas dan sebagainya. Apa yang dulunya merupakan masalah sebagian besar pria kini telah melewati batas gender. Wanita mungkin tidak saling tinju satu sama lain seperti pria, tetapi mereka bisa sama-sama mengemudi dengan agresif, kasar, dan bahkan berbahaya. Bagi banyak pria, agresi seharusnya dilakukan secara terbuka, sedangkan untuk wanita, itu lebih terselubung. Tetapi menempatkan mereka berdua di belakang kemudi, dalam kondisi misalnya terlambat untuk sesuatu, atau sedang marah tentang sesuatu yang lain, dan sedang tidak berminat untuk bersopan-sopanan, maka perilaku mereka akan menyerupai satu sama lain.

Faktor-faktor apa yang menyebabkan orang yang biasanya bersikap sopan mendadak seperti banteng yang melihat warna merah? Beberapa orang yang biasanya pemarah mengakui bahwa mereka memiliki kecenderungan untuk dengan mudah kehilangan kendali atas emosi mereka ketika mereka berada di belakang kemudi. Sekring mereka menyala ketika mereka memasukkan kunci ke dalam kunci kontak mereka.

Untuk beberapa jagoan jalanan, itu adalah kebutuhan untuk mengendalikan, untuk melawan pengemudi lain yang mereka rasa melanggar ruang antar posisi dan jarak mereka, atau itu adalah kebutuhan untuk memiliki jalur atau bagian dari jalan mereka sendiri. Bagi yang lain, itu adalah kemarahan dan agresi yang tidak terkendali. Ini berbasis hormon, primitif, pemikiran dari otak kecil, yang membawa kurangnya kecerdasan emosional dan kebutuhan untuk mendominasi orang lain dan ruang mereka yang tak tergoyahkan. Ditambah ego yang tidak terkendali, kebutuhan akan superioritas, kebanggaan narsisistik, maka jadilah perilaku di luar kendali.

Profesional kesehatan mental mendefinisikan perilaku tertentu sebagai masalah ketika mereka memiliki konsekuensi. Kemarahan di jalan, dan terutama tindakan-tindakan yang mengarah pada konfrontasi, dapat memiliki konsekuensi yang signifikan, termasuk ditilang oleh polisi, ditangkap karena mengemudi sembarangan, merusak kendaraan Anda atau kendaraan pengemudi lain, atau membahayakan seseorang di kendaraan lain atau seseorang yang Anda bawa di kendaraan Anda, termasuk pasangan atau anak-anak Anda. 

Konsekuensi kecilnya adalah bahwa Anda terus membiarkan satu peristiwa yang menimpa Anda di jalan merusak sepanjang hari Anda atau memberi Anda surat tilang. Dan jangan membuat masalah yang tidak begitu penting dengan mempermalukan keluarga Anda saat Anda bertindak seperti orang gila dengan meludah, mengutuk, mengoceh, hingga merusak kendaraan sendiri. Jika perilaku ini terlalu sering ditunjukkan kepada anak-anak, mereka bisa belajar melihat perilaku itu sebagai sesuatu yang “pantas” ketika mereka cukup umur untuk mengemudi. Atau mungkin mereka berpikir orang ini adalah seorang yang tidak dewasa.

Solusinya memang mudah untuk diucapkan tapi seringkali sulit untuk diikuti. Beberapa orang tidak memiliki kemauan atau sarana untuk mencoba menyembuhkan diri mereka sendiri, bahkan di bawah ancaman luka, kecelakaan, penilangan, penangkapan, atau tuntutan hukum. Mereka menderita sindrom "Ini kesalahan pengemudi lain". Tetapi satu jawaban sederhana untuk mencegah kemarahan yang terjadi di jalanan adalah dengan mematuhi peraturan dan persyaratan berkendara, berkonsentrasi penuh dan sungguh-sungguh pada saat Anda mengemudi, dan tidak membuat kontak mata atau peduli dengan orang-orang di sekitar Anda, bahkan ketika keterampilan mengemudi mereka menggelitik ego Anda untuk bersaing dengan mereka.

Sarana lain yang mudah adalah berlatih pernapasan stres: tarik napas selama empat hitungan lalu tahan selama empat hitungan, setelah itu buang napas selama empat hitungan lalu tahan lagi selama empat hitungan, dan ulangi siklus ini sebanyak yang diperlukan untuk membawa denyut nadi dan tekanan darah Anda kembali ke level normal.

Hmm, mungkin si Adi Saputra ini dan Adi Adi lainnya di jalanan perlu berlatih pernapasan dan anger management.