Health Advice | HEALTH | 8 months ago
Apakah Tato Buruk Bagi Anda?
Masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat tato.
19 February 2018 16:10
Text by Astri Suciati

Tato semakin populer dari sebelumnya. Sekitar setengah dari generasi millennial memiliki satu tato, sama juga seperti yang dilakukan 36% Gen X, menurut jajak pendapat Harris baru-baru ini. Jumlah orang Amerika dengan setidaknya satu tato telah melonjak 50% dalam empat tahun terakhir.

Ledakan popularitas ini telah menyebabkan beberapa ahli kesehatan melihat lebih dekat praktik tersebut. Apa yang mereka temukan sejauh ini menimbulkan pertanyaan - dan beberapa masalah.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun ini menemukan bahwa tato dapat mengganggu cara kulit Anda berkeringat. Dibandingkan dengan kulit non-tato, kulit yang bertinta mengeluarkan sekitar 50% lebih sedikit keringat, kata rekan penulis studi Maurie Luetkemeier, seorang profesor fisiologi di Alma College di Michigan. "Kami juga menemukan sodium dalam keringat lebih terkonsentrasi saat dilepaskan dari kulit yang bertato," katanya. Bila kelenjar Anda menghasilkan keringat, kulit cenderung menyerap kembali sodium dan elektrolit lainnya dari proses berkeringat tersebut sebelum melepaskannya. Temuannya menunjukkan bahwa tato bisa menghalangi sebagian reabsorpsi ini.

Ini tidak masalah jika Anda memiliki hanya satu tato, atau bahkan sedikit. Tetapi jika Anda memiliki tato dengan cakupan yang luas - terutama di punggung, lengan atau area lain yang padat oleh kelenjar keringat - tato dapat mengganggu kemampuan kulit untuk mendinginkan tubuh dan menyimpan nutrisi penting. "Anda melihat seseorang di militer, di mana tato sangat lazim, dan jika mereka terkena paparan cuaca yang sangat panas dan beban kerja yang berat, bisa jadi ada masalah thermoregulatory," kata Luetkemeier.

Semua ini, tambahnya, sangat spekulatif saat ini. Tapi penelitian lain telah menghubungkan tato dengan berbagai masalah kesehatan.

Meski sangat jarang, ada laporan yang menghubungkan tato dengan melanoma, kata Cormac Joyce, seorang ahli bedah plastik di University Hospital Galway di Irlandia. Dalam sebuah studi kasus yang dia publikasikan pada tahun 2015, Joyce menulis tentang seorang pria berusia 33 tahun dengan tato yang rumit dan beragam warna di dadanya. Melanoma ganas telah muncul hanya di bidang tato yang dipenuhi dengan tinta merah.

Dalam kasus khusus tersebut, penyebabnya mungkin bukan tinta merah. Joyce mengatakan bahwa pria tersebut kemungkinan memiliki melanoma yang sudah ada sebelumnya yang kemudian ditembak oleh seniman tato dengan jarum tinta merahnya. Si seniman mungkin kemudian "menanam" bagian lain dari kulit pria ini dengan sel ganas, katanya. Itu adalah informasi yang menenangkan jika Anda memiliki tato berwarna merah, tapi agaknya menakutkan jika Anda berisiko melanoma. Joyce mengatakan bahwa menyebarkan penyakit berbahaya melalui penanaman di kulit semacam ini jarang terjadi, namun "tentu bisa saja terjadi dalam pembuatan tato."

Studi kasus lainnya menghubungkan tato dengan kanker kulit. "Proses tato melibatkan integrasi garam logam dan pewarna organik ke dalam lapisan kulit dermal," kata Joyce. Peradangan kronis tingkat rendah yang dihasilkan akibat dari proses tersebut dapat merangsang "transformasi ganas".

Tinta tato sebagian besar tidak diatur, dan penyakit yang ditularkan melalui darah dilaporkan telah disebarkan oleh tinta yang tercemar. Pada tahun 2012, FDA menghubungkan wabah bakteri yang terjadi di banyak negara bagian dengan tinta tato yang terkontaminasi. Penyelidikan yang terperinci di New England Journal of Medicine menemukan bahwa kontaminasi "bisa terjadi di berbagai titik dalam proses produksi tinta" – yang berarti bahwa salon-salon tato mungkin tidak dapat disalahkan. "Tinta tato dianggap sebagai kosmetik," tulis penulis laporan tersebut. Akibatnya, tinta diizinkan masuk ke pasar tanpa banyak pengawasan, dan FDA dan organisasi keselamatan publik lainnya hanya mengambil langkah saat terjadi sesuatu yang buruk.

Logam yang digunakan dalam tinta tato juga dapat menyebabkan reaksi kulit. Sebuah studi dari Denmark pada tahun 2011 menemukan bahwa 10% botol tinta tato yang belum dibuka yang diuji terkontaminasi bakteri. "Peraturan mengenai tinta sudah lama tertunda," kata Joyce.

"FDA sedang melakukan penelitian untuk memperbaiki pengetahuan tentang tinta tato dan bahan-bahan yang digunakan di dalamnya dan untuk melihat lebih dekat komponennya yang berbeda," kata juru bicara FDA, dilansir dari majalah TIME. "Badan ini juga mengevaluasi metode untuk pengujian mikrobiologis tinta tato akibat dari kontaminasi mikroba terhadap beberapa tinta tato yang berakhir dengan penarikan secara sukarela."

Risiko yang terkait dengan tato - jika ada - tidak sepenuhnya diketahui. Tapi karena semakin banyak orang memilih tinta untuk membuat tato, diperlukan pemeriksaan ilmiah yang lebih baik.