Wellbeing | WELLBEING | 3 months ago
Bagaimana Kemacetan Lalu Lintas Memengaruhi Kesehatan Anda
Rutinitas pagi yang melibatkan kemacetan atau keterlambatan kereta dapat membahayakan kesehatan Anda dari waktu ke waktu, juga menurunkan kinerja Anda di tempat kerja.
03 August 2018 18:47
Text by Astri Suciati

Menjelang Asian Games, muncul aturan lalu lintas baru yang saat ini diterapkan yaitu aturan ganjil genap di sejumlah ruas jalan, yang berimbas pada perubahan rute para pengguna jalan, dan tentunya akibat lain yang timbul adalah kemacetan.

Apakah Anda bepergian ke dan dari tempat kerja dengan kereta, bus, mobil, jalan kaki, sepeda, skuter, atau sarana lainnya, yang namanya perjalanan pulang – pergi kerja itu jarang menyenangkan. Karyawan di ibukota rata-rata menghabiskan waktu 30 menit hingga 1 jam perjalanan ke dan dari tempat kerja (dengan asumsi jalanan lancar dan semuanya berjalan sesuai rencana, yang tentu saja tidak pernah terjadi). Alhasil, dengan kemacetan yang semakin parah, mereka bisa menghabiskan waktu hingga lebih dari 2 jam di perjalanan.

Tetapi berurusan dengan lalu lintas yang padat tidak hanya membuat orang terlambat untuk bekerja atau makan malam di rumah. Beberapa studi menunjukkan bahwa hidup dengan kemacetan lalu lintas yang konstan juga memiliki konsekuensi negatif terhadap kesehatan Anda.

 

Stres



Menurut laporan CNN, sebuah studi tahun 2012 oleh Washington University in St. Louis mencatat bahwa perjalanan pulang – pergi yang panjang dapat memakan waktu olahraga. Dengan demikian, perjalanan pp yang panjang ini terkait dengan kenaikan berat badan, tingkat kebugaran yang lebih rendah, dan tekanan darah yang lebih tinggi — semua adalah prediktor kuat penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Studi ini juga mencatat bahwa "terpapar dengan keruwetan lalu lintas harian dapat menyebabkan stres kronis yang lebih tinggi."

Salah satu pemicu stres saat mengemudi selama kemacetan lalu lintas adalah ketidaksabaran — harus menunggu lalu lintas bergerak dan berurusan dengan kesalahan pengendara lain di jalan.

"Ketidaksabaran, jika Anda tidak menanganinya di awal, cenderung berubah menjadi kebencian dan kemarahan," kata profesor psikologi University of Hawaii, Leon James, yang turut menulis "Road Rage and Aggressive Driving."

Stres, menurut psikiater Emily Deans dari Psychology Today, adalah "penyakit mematikan" yang membuat orang rentan terhadap penyakit lain dan bahkan depresi.

 

Polusi udara