Training Tips | FITNESS | 2 weeks ago
Jet Ski Di Mata Aero Aswar Sang Juara Dunia Andalan Indonesia
Nama Aero Aswar mungkin baru dikenal publik saat memperkuat kontingen Indonesia dari cabang olahraga jet ski yang baru pertama kali dipertandingkan di ajang Asian Games 2018 lalu. Bersama sang adik, Aqsa Aswar, mereka menorehkan prestasi gemilang dengan perolehan medali emas, perak dan perunggu dari nomor berbeda.
30 July 2019 20:58
Text by Astri Suciati


Anda mungkin baru mendengar nama Aero Aswar setelah duetnya bersama sang adik, Aqsa Aswar membela Indonesia di cabang olahraga jet ski di Asian Games 2018 berhasil membuahkan tiga medali, yang membuat nama mereka makin dikenal masyarakat luas. Apalagi dengan wajah dan penampilan mereka yang membuat mata kaum Hawa tak berkedip kala menonton aksi keren mereka di atas air. Aero dan juga Aqsa lantas menjadi idola baru yang kerap diperbincangkan.

Bicara tentang Aero Aswar yang lebih dulu terjun di dunia jet ski dibandingkan adiknya. Sebelum berlaga di Asian Games, sebenarnya Aero lebih sering unjuk gigi di berbagai kejuaraan internasional yang membawanya menjadi juara dunia dan bahkan pernah dinobatkan sebagai atlet jet ski nomor satu dunia. Berbekal tempaan latihan sejak masih balita dan kegemarannya terhadap jet ski yang diturunkan dari sang ayah, membuat pemuda 24 tahun ini menjadi sosok atlet jet ski tangguh yang berani bermain di luar zona nyamannya dan berhasil menaklukkan dunia.

Ditemui di Jet Ski Indonesia Academy, Ancol, Aero bercerita banyak hal tentang olahraga yang membuatnya dikenal dunia, hingga sikap antipatinya terhadap rokok, kebiasaan orang Indonesia buang sampah sembarangan, dan betapa perfeksionisnya dia saat terlibat mengerjakan sesuatu hal. Asal tahu saja, gedung Jet Ski Indonesia Academy yang baru dibangun menjelang perhelatan Asian Games 2018 ini sebagian besar desain interior, tata letak dan pernak-pernik lainnya adalah buah karya Aero sendiri! Meski tak memiliki latar belakang desainer atau arsitek, bahkan jauh dari itu karena kuliahnya di jurusan bisnis, ia mengaku hanya ingin membuat segala sesuatu terlihat bagus dan layak sesuai dengan standar yang diharapkannya. 

Selain jago di air, ternyata jago juga ya menata keindahan. Yuk langsung simak obrolan kami dengan si tampan bertato berikut ini.


Pertama kali dikenalkan jet ski oleh Ayah, apakah memang tertarik sendiri atau karena terpaksa tapi akhirnya menikmati? 

Sebenarnya kalau dipaksa sih nggak pernah sama sekali. Justru karena masih anak-anak, kita kaya dikasih banyak mainan, jet ski, motor cross, ATV, gokart, mainan yang kebanyakan ada mesinnya. Sampai akhirnya tiap minggu kita pilihannya ya itu-itu aja kan. Dari sekian banyak, setiap kali nyoba yang lain-lain pengennya jet ski, pengennya ke laut. Jadi kaya emang ke arah sini aja selalu manggilnya. Bosen motor cross atau yang lain, jet ski, lagi bosen jet ski, biasanya paling main yang lain. Tapi ujung-ujungnya ke jet ski lagi, jadi lebih dominan ke arah jet skinya daripada yang lain-lain. Aku emang suka laut sih. Kalau yang lain kan panas segala macam, kerasa. Kalau di jet ski kita olahraga kaya apapun tetap air, keringetan ya nggak kerasa, seru-seru aja rasanya.


Latihan jet ski itu seperti apa sih (teknik jet ski dan untuk menjaga stamina / kebugaran)? Adakah perbedaan intensitas saat tidak ada jadwal pertandingan dengan menjelang pertandingan?

Banyak banget. Basically untuk jet ski, kaya circuit training itu penting, heart rate kita kalau latihan harus tinggi banget, bisa sampai 215-an heart rate, jadi lumayan tinggi banget sih emang itu. Tapi aku selalu kalau latihan yang 200-an biasanya cuma seminggu dua kali, di-push jantungnya biar sampai segitu, terus ya makannya harus rapi banget, terus paling kalau latihannya sendiri kebanyakan kardio, TRX, pokoknya high intensity lah. Kadang-kadang ada yang cuma 5 detik break atau mungkin ada yang nggak sama sekali, no break at all juga ada, tergantung lagi mood-nya gimana. Terus dari leher sampai ankle itu kita latih semua. Karena jet ski itu lebih ke berat di vibration, jadi kita kan banyak bumps, ombak-ombak kecil yang kerasanya tuh hanya di small muscle. Jadi latihannya lebih banyak ke kardiovaskular sama core balance. 

Kalo nge-gym, workout aku latihan tiap hari Senin – Jumat, Sabtu – Minggu jet ski. Kadang-kadang Sabtu – Minggu jet ski plus workout. Kalau latihan jet ski sendiri itu ada buoy kaya bola-bola gitu, itu kalau buat latihan bisa ditaruh kaya cuma 12, 14. Kalau buat balap bisa sampai paling banyak tuh kalau nggak salah pernah 60-an. Jadi itu track-nya, kita ngikutin itu, bentuk track kita boleh tahunya hanya sehari sebelum balap. Kita mesti hafalin 60 sekian belokan, jadi kaya PR gitu di kamar buat hafalin semuanya. 

Intensitas latihan sih beda banget. Kalau mau menjelang pertandingan besar kaya kejuaraan dunia itu biasanya aku naikinnya gila-gilaan sih, bisa 20% lah palingan. Jadi kaya misalnya tadi heart rate-nya yang biasanya cuma 200-an 2 kali ini bisa sampai 3 – 4 kali. Nggak boleh sering-sering juga, dan 200-an itu nggak boleh lama-lama. Mungkin paling lama 5 detik, 3 detik itu cukup, yang penting nyampe segitu. Terus kalau kejuaraan dunia especially World Finals selalu pasti latihannya di gunung, karena nggak ada atau sedikit oksigen. Karena balapan kita di Arizona, di danau, pegunungan gitu, itu sekitar 2000 – 3000 kaki, jadi kita harus menyesuaikan kondisi udara biar benar-benar sama. 


Apa saja yang dinilai di kompetisi jet ski dan apa yang paling menantang di sebuah kompetisi?

Sama aja sebenarnya kalau jet ski sih, kita kaya balap motor cross, F1, moto GP, yang kita start rame-rame satu baris terus start bareng, balapan siapa yang duluan. Teknik paling ada kalau free style. Lamanya tergantung tipe balapannya, kalau yang circuit 15 – 20 menitan biasanya, terus kalau yang endurance bisa setengah jam sampai tiga jam. Bedanya sama balapan yang lain, kalau nonton jet ski, dari awal sampai akhir bisa kelihatan semuanya view-nya dari mereka start sampai mereka finish.

Yang paling menantang di sebuah kompetisi itu menaklukkan diri sendiri sih. Sekarang yang bikin susah kan kalau kita malas. Nggak mungkin seorang manusia nggak ada malasnya, pasti ada. Kaya aku, serajin apapun olahraga segala macam pasti ada aja malasnya, dan malasnya itu yang aku harus lawan. Kalau aku pribadi kalau lagi benar-benar malas ya udah sekalian aja dibikin hari istirahat jadinya. Meskipun harus latihan, misalnya nih latihannya mungkin harusnya schedule pagi, tapi paginya lagi malas misalnya. Ya udah mending sekalian tidurin, jadi badannya istirahat, rest day. Udah, tinggal ganti schedule-nya aja ke sore atau ke malam. Paling nggak udah dapat tidur enak, udah nyenyak, jadi nggak bete aja olahraganya. 


Seandainya bukan jadi atlet jet ski, kamu ingin jadi atlet apa?

Nggak jadi atlet sih kayanya. Coba, siapa yang mau jadi atlet sebenarnya? Iya enak dapat bonus, coba suruh lari 10 kilo tiap hari, mau nggak? Nggak ada artinya bonus. Aku pribadi sih Asian Games bukan ngincer bonus, aku ngincer medali, ngincer buat negara, bukan ngincer apa-apanya. Kalau semua orang cuma ngincer bonus, semua orang mau jadi atlet dong. Karena mana ada orang mau jadi atlet, tiap hari tuh olahraga. Apalagi di Indonesia, baru diapresiasinya setelah Asian Games kebanyakan. Sebelumnya kita nggak ada apa-apanya. Jadi ya nggak ada artinya sebenarnya bonus.