Wellbeing | WELLBEING | 1 month ago
Memahami Fakta Body Dysmorphic Disorder (BDD), Kelainan Yang Biasanya Diderita Oleh Pecandu Operasi Plastik
Sebelumnya kami pernah membahas manfaat dan risiko bedah plastik. Kali ini masih seputar operasi plastik, dengan fokus tentang Body Dysmorphic Disorder (BDD), yaitu gangguan yang biasa diidap oleh orang-orang yang gemar melakukan operasi plastik demi kesempurnaan penampilan yang mereka inginkan. 
15 October 2018 18:28
Text by Astri Suciati

Masih hangat pemberitaan mengenai Ratna Sarumpaet dengan isu penganiayaan dan operasi plastiknya. Lagi-lagi tentang operasi platik. Sebelumnya kami pernah membahas manfaat dan risiko bedah plastik. Namun, di sisi lain, mungkin sebagian di antara kita bertanya-tanya, apa yang membuat orang begitu gemar mengubah beberapa bagian wajah dan tubuhnya hanya untuk tampil sempurna versi mereka, bahkan ada yang melakukannya berkali-kali karena tidak pernah merasa puas dengan penampilannya, hingga rela merogoh kocek dalam-dalam untuk itu. Ini bagaikan candu.

Anda tentu sering melihat sosok beberapa selebriti yang terkenal sering operasi plastik dengan wajah barunya yang sebenarnya tidak lebih baik dari wajahnya yang dulu. Contoh: Donatella Versace, Michael Jackson, Daryl Hannah, Dolly Parton, dan yang terkenal dengan sebutan “Lion woman of New York”: Jocelyn Wildenstein, belum lagi contoh orang-orang yang dengan nekat mengubah total wajah dan tubuhnya untuk menyerupai sosok idolanya misalnya boneka Barbie atau Ken, Superman, bahkan hewan seperti harimau dan lain-lain.

Sebagian besar dari kita pasti memiliki sesuatu yang tidak kita sukai dari penampilan kita - hidung bengkok, senyuman yang tidak simetris, atau mata yang terlalu besar atau terlalu kecil. Dan meskipun kita mungkin khawatir tentang ketidaksempurnaan kita, untuk orang normal hal-hal tersebut tidak mengganggu kehidupan kita sehari-hari.

Tetapi orang-orang yang memiliki body dysmorphic disorder (BDD) berpikir tentang kekurangan yang nyata atau yang dirasakan mereka selama berjam-jam setiap hari. Mereka tidak dapat mengendalikan pikiran negatif mereka dan tidak percaya orang-orang yang mengatakan kepada mereka bahwa mereka terlihat baik-baik saja. Pikiran mereka dapat menyebabkan tekanan emosional yang parah dan mengganggu fungsi keseharian mereka. Mereka mungkin kehilangan pekerjaan atau sekolah, menghindari situasi sosial dan mengisolasi diri, bahkan dari keluarga dan teman, karena mereka takut orang lain akan melihat kekurangan mereka.

 

Karakteristik BDD

BDD adalah gangguan kelainan citra tubuh yang dicirikan dengan pemusatan perhatian terus-menerus dan intrusif terhadap bayangan kekurangan atau ketidaksempurnaan dalam penampilan seseorang.

Orang-orang dengan BDD tidak menyukai apapun bagian tubuh mereka, meskipun mereka sering menemukan kesalahan pada rambut, kulit, hidung, dada, atau perut mereka. Pada kenyataannya, kekurangan yang dirasakan mungkin hanya sedikit ketidaksempurnaan atau malah tidak ada. Tetapi bagi seseorang dengan BDD, kekurangan itu signifikan dan menonjol, sering menyebabkan tekanan emosional yang parah dan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari.

BDD paling sering berkembang pada anak-anak yang beranjak remaja dan remaja yang beranjak dewasa, dan penelitian menunjukkan bahwa hal itu hampir sama dalam mempengaruhi pria dan wanita. Di Amerika Serikat, BDD terjadi pada sekitar 2,5% pada pria, dan 2,2% wanita. BDD sering mulai terjadi pada remaja usia 12-13 tahun (American Psychiatric Association, 2013).

Penyebab BDD masih tidak jelas, tetapi faktor biologis dan lingkungan tertentu dapat berkontribusi terhadap perkembangannya, termasuk predisposisi genetik, faktor neurobiologis seperti gangguan fungsi serotonin di otak, ciri kepribadian, dan pengalaman hidup (misalnya penganiayaan saat masih anak-anak, trauma seksual, atau perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya).

 

Tanda dan gejala BDD

Orang-orang dengan BDD menderita obsesi tentang penampilan mereka yang dapat berlangsung selama berjam-jam atau hingga seharian penuh. Obsesi BDD mungkin berfokus pada otot-otot (yaitu fiksasi pada definisi atau massa otot). Sulit untuk menolak atau mengendalikannya, obsesi ini menyulitkan orang-orang dengan BDD untuk fokus pada apa pun kecuali ketidaksempurnaan mereka. Ini dapat menyebabkan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri atau kepercayaan diri, penghindaran terhadap situasi sosial, dan masalah di tempat kerja atau sekolah.

Penderita BDD dapat melakukan beberapa jenis perilaku kompulsif atau berulang untuk mencoba menyembunyikan atau memperbaiki kekurangan mereka meskipun perilaku ini biasanya hanya memberikan bantuan sementara.

Contohnya tercantum di bawah ini:

  • Menyamarkan atau berkamuflase (dengan posisi tubuh, pakaian, makeup, rambut, topi, dll.)
  • Membandingkan bagian tubuh dengan penampilan orang lain
  • Mencari cara untuk operasi
  • Memandangi cermin berkali-kali
  • Menghindari cermin
  • Mengorek atau menggores kulit
  • Perawatan berlebihan
  • Olahraga berlebihan
  • Mengganti pakaian secara berlebihan

 

BDD dan gangguan kesehatan mental lainnya

Orang dengan BDD umumnya juga menderita gangguan kecemasan seperti gangguan kecemasan sosial, serta gangguan lain seperti depresi, gangguan makan, atau obsessive-compulsive disorder (OCD).

BDD juga bisa salah didiagnosis sebagai salah satu gangguan tersebut karena mereka memiliki gejala serupa. Pikiran yang mengganggu dan perilaku berulang yang ditunjukkan dalam BDD mirip dengan obsesi dan kompulsi OCD. BDD dibedakan dari OCD ketika keasyikan atau perilaku berulang terfokus khususnya pada penampilan. Menghindari situasi sosial dalam BDD mungkin dikarenakan malu atau malu akan penampilan fisik seseorang dan ini mirip dengan perilaku beberapa orang dengan gangguan kecemasan sosial.

 

Pengobatan

Untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan perawatan yang tepat, orang-orang yang menderita gangguan ini harus menyebutkan secara khusus kekhawatiran mereka dengan penampilan mereka ketika mereka berbicara dengan dokter atau ahli kesehatan mental. Seorang dokter yang terlatih seharusnya bisa mendiagnosis BDD.

Namun, Anda dapat melakukan swa-uji yang dapat membantu mendeteksi adanya BDD, tetapi itu tidak akan menawarkan diagnosis definitif.

Jika anak Anda terlalu sibuk atau asyik sendiri dengan penampilan sehingga mengganggu konsentrasi di sekolah atau jika perilaku yang tercantum di atas muncul, bicaralah dengan profesional kesehatan mental.

Perawatan yang efektif tersedia untuk membantu penderita BDD menjalani hidup yang normal dan produktif, misalnya:

  • Cognitive-behavioral therapy (CBT) mengajarkan pasien untuk mengenali pemikiran irasional dan mengubah pola berpikir negatif. Pasien belajar untuk mengidentifikasi cara berpikir dan berperilaku yang tidak sehat dan menggantinya dengan yang positif.
  • Obat antidepresan, termasuk selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), dapat membantu meringankan gejala obsesif dan kompulsif BDD.

Perawatan ini disesuaikan untuk setiap pasien sehingga penting untuk berbicara dengan dokter untuk menentukan pendekatan individu yang terbaik. Banyak dokter menyarankan menggunakan kombinasi perawatan untuk hasil terbaik.