Professional Athletes | INTERVIEWS | 1 month ago
Putri Sulistyowati: Model Indonesia Pertama Di Panggung London Fashion Week Sekaligus Pemilik Poetsoe Creative Space Dan Cafe
Putri Sulistyowati adalah model Indonesia pertama yang berhasil menembus arena mode internasional dengan melenggang di atas panggung London Fashion Week. Sekembalinya ke Indonesia, ia mendirikan sebuah cafe sekaligus learning dan coworking space yang dinamakan Poetsoe Creative Space & Cafe.
02 August 2019 20:45
Text by Astri Suciati


Di sudut perumahan di wilayah Menteng Dalam, Jakarta Selatan, ada sebuah tempat serupa cafe unik bernuansa rumahan penuh warna-warna cerah yang menarik, dengan dekorasi dan desain vintage yang menghiasi tiap ruangan. Siapa sangka bahwa sesungguhnya tempat ini bukanlah sekadar tempat nongkrong biasa, tetapi juga merupakan coworking space, yang juga menyediakan meeting room dan venue untuk event, selain tentu saja café.

Tempat ini bernama Poetsoe, yang disebut oleh pemiliknya sebagai creative space & cafe. Pemiliknya tak lain adalah Putri Sulistyowati. Faktanya, Putri adalah seorang arsitek sekaligus model Indonesia pertama yang berjalan di atas panggung runway London Fashion Week, dan hingga kini masih aktif berkiprah di dunia modelling. Suasana Poetsoe yang hangat dan cerah bermandikan sinar matahari mengantarkan kami ngobrol santai dengan perempuan berkulit eksotis bertubuh tinggi semampai 178 cm ini.


Sejak kapan dan bagaimana ceritanya mengawali karir sebagai model hingga go international?

Jadi awalnya dulu tuh aku posturnya bungkuk banget, nggak pede sama sekali, termasuk orang yang sangat tinggi pada zaman itu, maksudnya aku belum ketemu dengan komunitas modelling atau model-model lain. Nah dari situ ibuku tuh melihat, ini anak nggak bisa deh kaya gini terus, akhirnya aku diperkenalkan dengan modelling. Lulus SMA aku masuk ke sekolah modelling, namanya OQ Modelling School. Nah di situ tuh mulai terbuka matanya, mulai ketemulah dengan calon-calon model. 

Jadi yang lulus dari situ tuh nggak necessarily sebenarnya jadi model, tapi itu kan pengembangan diri, maksudnya kaya basic manner, terus kaya gimana caranya kita duduk, dandan, mungkin berkomunikasi dengan orang, membawa diri. Jadi di situ tuh lebih diajarin kaya gitu. Kalau jadi model itu bonus, tapi kebetulan memang kata guru-gurunya aku punya potensi dan ini harus lebih diperkenalkan biar aku tuh juga jadi lebih pede dan lebih berani untuk mengambil langkah itu.

Lulus sekolah modelling mulailah tuh nyoba ikut casting-casting fashion show kaya buat Esmod, atau Lasalle, Raffles. Nah kebetulan ada kaya namanya modelling scouter, adalah orang yang mencari kita (calon model) untuk ditarik ke agency modelling gitu. Akhirnya aku masuk ke Look Models yang memang pada masanya cukup jaya sih. Di situ aku belajar dan mencoba menerapkan apa yang sudah diajarkan di sekolah modelling dan juga di agency untuk jadi model profesional. 

Di tahun 2010 aku langsung dapat shownya Biyan. Habis dari situ langsunglah mulai dikenal-kenal lagi masuk ke Jakarta Fashion Week, Bazaar Fashion Concerto, Indonesia Fashion Week, dan berlanjut lagi ke fashion show lainnya. Jadi selama empat tahun di Indonesia dari 2010 sampai 2014 aku juggling tuh sama modelling, plus kuliah arsitektur. Jadi kebetulan memang saat itu orangtua tuh udah melepaskan aku untuk mandiri dan cari uang jajan sendiri. Tapi intinya adalah bertanggung jawab atas apa yang kita terima, karena kita bertanggung jawab untuk kerja juga kuliah juga dan di saat yang bersamaan aku benar-benar nggak mau ninggalin yang namanya kuliah.

Tahun 2014 aku memutuskan pindah ke Inggris untuk S2. Kenapa pengen S2 di Inggris, sebenarnya simpel sih, karena pengen keluar dari Indonesia dan justru bukan karena belajarnya aja, tapi pengen mencoba modellingnya. Nah, kesempatan inilah yang bisa membawa aku untuk menjalani keduanya. Di sini juga aku diultimatum nggak dikasih uang jajan, ya udah berarti harus bisa nih dua-duanya. Awalnya masih dibantu, tapi lama-lama tahun berikutnya udah benar-benar mandiri, jadi ini juga membuat aku lebih fight sama diri sendiri sih, gimana caranya badan harus tetap prima, terus harus bisa memenuhi standar di Inggris untuk bisa berlangsung hidup. Karena di sini sulit banget dan apalagi mahal kan.

Nah alhamdulillah di London, dari awal banget aku nyampe, landing, itu langsung beberapa hari kemudian jalan buat London Fashion Week untuk satu show. London Fashion Week itu ada dua season, fall sama summer, jadi setahun ada dua kali. Karena aku satu setengah tahun di sana, jadi ikut tiga season, diselingi sehari-harinya casting, foto, lalu fashion show yang internal kaya buat di show room suatu brand lumayan reguler, jadi itu bisa nih buat nutupin uang jajan aku.

Jadi sebelum pindah ke Inggris, aku tuh iseng kirim email ke salah satu agency di London yang menurut aku cocok, namanya FM London pada saat itu, sekarang namanya The Squad Management. Terus mereka minta aku datang ke kantor mereka, itu belum tentu diterima sih, maksudnya itu kaya walk in interview sih jatuhnya. Terus pas ketemuan di sana, mereka mau jadi mother agency aku yang kemungkinan bisa membantu aku untuk ke negara lain, mungkin kaya Paris, Australia dan segala macam. Tapi karena aku bilang lagi sekolah, jadi kalau ke luar agak susah, pertimbangannya harus di London, atau nggak, mungkin somewhere in the UK masih oke lah. 

Dari situ mulai ternyata kedengaran juga nih sampai Indonesia, karena kaya ada yang interview aku juga, mereka bilang aku satu-satunya model Indonesia pertama yang jalan di London Fashion Week, karena sebelumnya belum ada. Jujur, kalau kita ngomongin badan atau mungkin tipe kulit, kulitku tuh agak susah karena kan aku tan, Southeast Asian di sana itu belum ada yang bisa nembus. Paling yang bisa nembus Philippines, tapi mereka kan fair skin. Jadi untuk aku nyoba awal-awal tuh sebenarnya gambling banget, tapi untungnya ternyata diterima aja sih, dan mereka kaya willing to take the risk karena katanya aku unik banget. Jadi, somehow di sana I feel appreciated like lebih dari apa yang kaya aku harapkan sih sebenarnya.




Selama berkarir di luar, pernah ada pengalaman tidak mengenakkan dari agency atau teman sesama model?

Surprisingly nggak sih. Karena agency di sana tuh sangat encouraging gitu lho. Bahkan mereka tuh sangat memperhatikan kita, kalau misalnya kita lagi capek atau kita lagi kaya kurang fit, pasti ditanya kenapa. Benar-benar mother agency as a mother gitu lho. Jadi kita cerita dan mereka bisa kasih break kalau misalnya kita lagi capek, suntuk atau lagi banyak tugas, jadi kita balik lagi ketika kita merasa udah siap buat kerja. Mereka nggak ada pressure di sini, jadi kita juga senang dong, berarti mereka ngertiin banget ya. 

Kalau misalnya aku lagi capek ya mereka nggak maksain aku untuk kerja juga. Jadi mau gimana pun mereka tuh benar-benar consider our self as their children juga. Jadi kita ngerasa benar-benar diperhatiin, terus nggak sendirian. Mungkin beda-beda agency mereka punya goal masing-masing, dan kebetulan ini kenapa aku milih FM pertama kalinya karena mereka sangat sangat kekeluargaan dan nggak nge-push kita untuk kaya romusha, kerja terus gitu, nggak sih.

But do you know kalau orang Inggris nggak akan pernah obvious kalau misalnya mereka rasis. Mereka rasis pasti di belakang. Haha...Mereka pasti two face gitu. Jadi kesannya memang kayanya mereka baik terus, tapi kita nggak tahu di belakangnya gimana. Haha…Ini pengalaman setelah selama setahunan aku tinggal di sana. Ternyata mereka bilang bagus, senang, belum tentu sebenarnya secara realita seperti itu. Mereka just being nice aja, gitu.


Apa saja perbedaan dalam dunia modelling antara di Indonesia dan di luar?

Jadi kalau di Inggris itu it’s all about efficiency. Jadi kita itu dibayar berdasarkan per jam, makin lama pasti makin mahal. Fashion show aja kita pun maksimal empat jam, sehingga kita bisa attend another show yang kita bisa kerjain lagi, atau mungkin kita bisa foto sorenya. Jadi mereka pasti sangat sangat memikirkan waktu untuk model, jangan sampai lewat nih, karena kita benar-benar ngontrak mereka cuma empat jam, itu udah termasuk hair, makeup, GR, show, lunch, misalnya kaya gitu. 

Nah kalau di sini, mungkin berpengaruh sama budaya juga ya, jadi banyak orang yang antisipasi telat, modelnya kabur, atau mungkin gimana. Jadi mereka prefer untuk nge-book kita seharian, even GR misalnya jam 6 pagi, shownya mungkin jam 8 malam, jadi kita benar-benar di-book seharian penuh. Ya perbedaan sistem aja sih sebenarnya, kaya time management-nya itu memang beda.

Terus di luar itu, mau model senior, mau model junior yang baru, itu semuanya disamaratakan, dalam artian desainer akan casting ulang, akan ngukur ulang. Ya kalau misalnya udah senior, udah kenal, tapi nggak memenuhi syarat, kriteria atau standar, mereka sorry to say nggak bisa ikut show, it’s professional gitu lho. Nah, kalau di sini kan banyak yang misalnya kalau udah kenal langsung dipakai karena udah biasa. Paling yang kaya gitu sih, perbedaannya lebih ke cara, time management, pembagian waktu, sama tipe show.