Nutrition Tips | NUTRITION | 4 weeks ago
Serba-serbi Nutrisi Dari Kacamata Mochammad Rizal, Sport Nutritionist KONI Jawa Timur
Bincang sehat seputar nutrisi dan profesi ahli gizi dengan Mochammad Rizal, Sport Nutritionist Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur.
17 June 2019 18:33
Text by Astri Suciati

Menu makanan yang sehat dan seimbang tak dipungkiri terkait erat dengan nutrisi atau gizi. Asupan makanan bergizi tentunya dibutuhkan sebagai materi bagi tubuh untuk dapat berfungsi secara maksimal dan kesehatan pun terjaga. Selain mungkin orang yang sedang berdiet memperhatikan pola makan, salah satu orang yang sangat peduli terhadap nutrisi tak lain adalah seorang nutrisionis alias ahli gizi. 

Seorang ahli gizi profesional bisa ditemui biasanya di institusi kesehatan dan kebugaran seperti Rumah Sakit, klinik, fitness club, badan olahraga, ada pula yang memiliki bisnis online coaching ataupun katering makanan sehat. Salah satu nutrisionis yang kami wawancarai di sini yaitu Mochammad Rizal. Lelaki yang akrab disapa Rizal ini adalah seorang Sport Nutritionist di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur. 

Selain aktif di KONI, ia pun merupakan salah seorang pengurus Indonesia Sport Nutritionist Association, dan juga Certified Sport Nutritionist di Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI). Lulusan Cum Laude S-1 Ilmu Gizi dan termasuk wisudawan berprestasi dari Universitas Airlangga Surabaya ini memiliki kegemaran mengedukasi, rutin menulis tentang tips diet, gizi dan kesehatan di akun Instagram pribadinya @rizalnutritionist dengan jumlah followers 50 ribu lebih. Aktivitasnya ini kerap membuatnya menjadi kontributor di beberapa majalah dan media, serta pembicara pada acara seminar, training, atau workshop. Bahkan dalam waktu dekat ia akan meluncurkan buku tentang diet dan penurunan berat badan.

Langsung saja simak obrolan kami dengan pria berkacamata ini, yang membahas berbagai hal mengenai nutrisi, makanan sehat seimbang dan tentu saja pengalamannya sebagai seorang nutrisionis.


Kenapa memilih menjadi ahli gizi dan apa yang menarik dari profesi ini?

Kebetulan saya sudah tertarik untuk menjadi ahli gizi sejak duduk di bangku SMP. Alasan waktu itu simple. Karena saya menderita (iya, bukan hanya mengalami tetapi benar-benar menderita) obesitas sejak kecil. Kebetulan ibu saya adalah seorang mantan atlet timnas hoki Sea Games, dan sekarang sebagai guru olahraga. Saya sudah dilibatkan dalam berbagai olahraga sejak kecil, tapi hasilnya nihil, tetap saja gemuk. Hingga penasaran, berarti ada faktor menarik lain yang berperan dalam penurunan berat badan, dan ternyata itu adalah pola makan. Setelah itu mencoba diet tetapi malah terlalu ekstrem hingga mengalami eating disorder, dan kondisi kesehatan malah makin memburuk, sakit-sakitan. 

Sejak saat SMP itulah saya mulai tertarik untuk mendalami ilmu gizi, belajar melalui membaca berbagai artikel secara otodidak. Kemudian saya menyadari bahwa masalah ini bukanlah masalah saya pribadi seorang, tetapi juga masalah bagi banyak orang di Indonesia (1 dari 5 orang; Riskesdas 2018). Sejak saat itulah saya ingin membantu masyarakat untuk mengatasi masalah ini karena saya paham benar bagaimana menderitanya menjadi seorang yang obesitas. Menariknya, obesitas (dan masalah gizi lainnya) bukan hanya masalah per individu, tetapi juga merupakan masalah skala nasional yang dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia dalam berbagai bidang secara keseluruhan.


Apa sih bedanya ahli diet dan ahli gizi?

Kalau di luar negeri, ada yang namanya "dietitian" dan "nutritionist". Kalau dietitian, itu mereka yang belajar di jalur akademis (kuliah, profesi resmi) sedangkan nutritionist tidak. Istilah ahli diet saya kurang paham, tetapi mungkin hampir mirip dengan dietisien. Berbeda dengan di luar, di Indonesia baik dietisien maupun nutrisionis (ahli gizi) sama-sama harus belajar di jalur akademis. Bedanya, dietisien ada pembelajaran lanjutan (profesi) setelah lulus sarjana (seperti dokter internship) sehingga mempunyai kewenangan yang lebih dibandingkan nutrisionis. Tetapi keduanya sama-sama diakui di Indonesia sebagai profesi resmi.


Dulu kita biasa mempelajari bahwa makanan yang seimbang itu adalah 4 sehat 5 sempurna. Apakah konsep tersebut masih relevan saat ini? Lalu yang bagaimana menu dengan gizi seimbang itu?

Menu gizi seimbang adalah hasil "revisi" dari slogan 4 sehat 5 sempurna. Jika di 4 sehat 5 sempurna terlalu "mendewakan" susu sebagai makanan yang sempurna ibarat tanpa konsumsi susu berarti belum sempurna, maka hal ini direvisi pada konsep menu gizi seimbang. Kandungan gizi pada susu terdapat juga pada bahan makanan yang lain. Selain itu, pada konsep menu gizi seimbang sudah mempertimbangkan lebih banyak faktor misalkan ajakan untuk mengembangkan kebiasaan baik misalkan sarapan pagi, mengurangi konsumsi makanan manis, asin, dan berlemak, cukup minum air, membaca label makanan kemasan, cuci tangan sebelum makan, dll, yang semuanya tidak ada di konsep 4 sehat 5 sempurna.




Bagaimana cara seorang ahli gizi dalam merancang perencanaan makanan untuk klien / pasien dengan kondisi kesehatan yang berbeda-beda?

Ahli gizi memiliki pedoman bernama Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Di dalam pedoman tersebut ada protokol-protokol yang wajib diisi sebelum memberikan saran dan merancang menu makanan untuk klien mulai dari asesmen, diagnosis, intervensi, dan monitoring evaluasi. Asesmen sendiri terdapat beberapa poin misalkan antropometri, biokimia, klinis fisik, dietary history, environment. Dari pedoman tersebut baru seorang ahli gizi dapat memberikan saran dan merancang menu yang tepat untuk klien sesuai dengan kondisi kesehatannya. PAGT adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dipelajari oleh seorang ahli gizi.


Bagaimana Anda memotivasi klien / pasien yang sangat memerlukan bantuan tetapi dia kurang antusias atau tidak yakin? 

Terkadang bagian ini memang merupakan tantangan bagi seorang ahli gizi. Karena hal pertama yang perlu diubah adalah motivasi dari dalam diri klien. Ada teori predisposing, enabling, dan reinforcing faktor, salah satunya. Seorang ahli gizi juga diberikan sedikit ilmu tentang dasar-dasar psikologi yang tentu sangat bermanfaat. All in all, setiap individu memiliki triggering factor yang berbeda-beda agar termotivasi, sehingga cara meyakinkannya adalah dengan mencari faktor apa yang akan membuat mereka mau berubah. Maka perlu dilakukan penggalian lebih dalam pada saat sesi konsultasi terkait hal ini.


Bicara tentang diet, apakah berbagai jenis diet yang pernah ada atau yang ada saat ini memang bermanfaat / baik untuk tubuh? Bagaimana sebaiknya aturan berdiet yang benar?

Sebagian iya, sebagian tidak (netral), bahkan sebagiannya lagi berbahaya. Jika seseorang paham benar prinsip-prinsip dasar ilmu gizi, maka sebenarnya mereka tidak perlu lagi mengikuti jenis-jenis diet yang sedang tren yang ada saat ini. Prinsip-prinsip tersebut sudah teringkas dengan baik pada pedoman gizi seimbang yaitu: perbanyak konsumsi sayur dan buah, makan lauk pauk tinggi protein, batasi makanan asin, manis, dan berlemak, serta cukupi kebutuhan cairan. Kemudian untuk lebih detailnya, bisa berkonsultasi kepada ahli gizi agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi kesehatan dan preferensi masing-masing individu.