Training Tips | FITNESS | 1 week ago
Siman Sudartawa: Nyaris Tenggelam Saat Awal Mengenal Dunia Renang, Kini Menjadi Atlet Renang Terbaik Indonesia
Indonesia punya salah satu perenang handal terutama di nomor spesialisasi gaya punggung, tak lain adalah Siman Sudartawa. Atlet renang asal Bali ini kerap menorehkan sejumlah rekor dan prestasi yang tentunya sangat membanggakan dan membawa harum nama Indonesia di kancah internasional.
02 July 2019 17:58
Text by Astri Suciati


Bendera merah putih pernah beberapa kali berkibar di tangan I Gede Siman Sudartawa, perenang putra andalan Indonesia, di antaranya saat defile kontingen Indonesia pada upacara pembukaan Olimpiade London 2012, Asian Games Korea Selatan 2014, SEA Games Malaysia 2017, dan Asian Games 2018. Meski belum berhasil memboyong medali pada perhelatan olahraga akbar se-Asia tahun lalu, namun sebagai seorang atlet ia tetap optimis dan terus berjuang memberikan yang terbaik untuk bangsa ini.

Siman berjuluk perenang gaya punggung tercepat di Asia Tenggara karena memecahkan rekor di nomor 100 meter gaya punggung mengalahkan rekor yang sebelumnya pernah dipegang oleh atlet Malaysia, serta berturut-turut mempersembahkan medali emas di nomor 200 m, 100 m dan 50 m pada SEA Games 2011, juga di SEA Games 2017 lalu. 

Pemuda hitam manis murah senyum kelahiran Klungkung, Bali 25 tahun silam ini sekarang sedang menempuh pendidikan di STIE Perbanas Institute Jakarta sambil terus berlatih untuk persiapan kompetisi berikutnya. Selain renang, pemilik tinggi 174 cm dan berat 68 kg ini juga gemar olahraga basket. Layaknya kebanyakan atlet profesional, Siman pun saat ini dikontrak oleh merek produk olahraga ternama Speedo dan juga Ajinomoto sebagai supplier semua makanan untuk dirinya. 

Pengagum atlet renang Inggris Adam Peaty ini berbagi kisah seputar aktivitasnya di dunia air seperti berikut ini.




Kenapa memilih olahraga renang dan sejak kapan serta bagaimana awalnya mulai menjadi atlet renang profesional?

Awal mula kenal dunia renang itu dari umur 6 tahun di Klungkung, Bali. Jadi waktu di sekolah ada pelajaran olahraga renang, nah di sana pertama kali tahu yang namanya kolam renang dan renang itu sendiri. Pertama kali masuk ke kolam itu senang tapi waktu disuruh menyelam melewati halangan gitu ya hampir tenggelam, tapi di sana aku lihat teman sebangku aku sudah mahir berenang gaya bebas, nah di sana timbul rasa iri kok dia bisa sedangkan aku enggak. 

Jadi sehabis olahraga itu aku langsung minta ke ibu kalau aku juga mau les berenang supaya bisa seperti teman aku. Yah dari sana 6 bulan kemudian ikut pertandingan antar Sekolah Dasar di Klungkung terus mewakili Klungkung untuk pertandingan se-Bali dan pertama kali ikut kejuaraan nasional di tahun 2003 di umur 9 tahun, mengikuti pertandingan internasional pertama itu di tahun 2006 dan masuk di Pelatnas di tahun 2011.


Apa tantangan yang paling sulit saat sedang bertanding?

Mungkin untuk tantangan itu ya yang paling besar didapat dari latihan karena pertandingan itu ya cerminan dari bagaimana kita latihan.


Latihan seperti apa yang rutin dilakukan dan adakah perbedaan intensitas saat latihan rutin biasa dengan menjelang pertandingan?

Untuk latihan sendiri itu ada periodenya jadi pasti berbeda-beda tiap hari, tiap minggu dan tiap bulan. Untuk awal tahun di 3 bulan awal pasti kita melatih endurance tapi kalau mendekati pertandingan kita lebih banyak ke race pace.




Apakah kamu pernah merasa gugup dan minder saat mengetahui lawan-lawanmu adalah atlet yang dikenal tangguh? Bagaimana caramu mengatasi perasaan tersebut?

Pastinya pernah dan cara mengatasinya ya biasanya aku mendengarkan lagu yang beat-nya kencang.


Teknik penting apa yang harus dikuasai oleh perenang saat sudah berada di dalam air? 

Teknik itu ya harus kita latih tiap hari dari melakukan drill di tiap gaya, jadi harus bisa merasakan bagaimana gerakan tangannya waktu di bawah air dan waktu masuk ke permukaan air.


Bisa diceritakan apakah pernah punya pengalaman cedera yang membuatmu gagal bertanding misalnya? 

Pertama kali aku cedera itu waktu pertandingan di bulan Desember 2018 di Myanmar, bahu kanan aku lepas waktu turun di nomor 50 m gaya punggung. Jadi kejadiannya setelah start, bahu kanan aku langsung lepas waktu melakukan tarikan tangan pertama tapi aku paksa putar tangan sehingga bahunya balik lagi ke tempatnya dan berenang sampai finish tapi untungnya masih dapat medali emas. Ya mungkin karena ada adrenalin waktu berenang sakitnya gak berasa tapi setelah finish baru tangan aku gak bisa digerakin sama sakali dan langsung ke rumah sakit di sana.


Apakah benar kecepatan berenang dipengaruhi oleh tinggi badan?

Kalau untuk kecepatan tidak tapi untuk power iya. Jadi biasanya yang bertubuh tinggi itu speed putaran tangannya tidak bisa cepat tapi natural power-nya mereka lebih besar.